Bedah Sesar

Tulisan ini sedikit mau cerita bagaimana mendampingi istri yang baru saja menjalani bedah sesar. Bedah sesar sederhananya adalah proses melahirkan melalui pembedahan di perut bagian bawah hanya berjarak kurang lebih 1 jari di atas jalan lahir. Bedah sesar dilakukan bisa karena faktor medis (rekomendasi dokter karena alasan kesehatan dan keselamatan) atau bisa juga karena permintaan pasien (entah sudah tidak kuat atau memang ada hal lain),kenapa permintaan pasien juga boleh dilakukan sesar? karena itu termasuk dalam hak pasien di RS. Skip, melahirkan melalui bedah sesar jelas berbeda dengan proses melahirkan normal (melalui jalan lahir),banyak yang berkata 2 hal itu berkebalikan, melahirkan normal sakitnya di awal,kalau sesar sakitnya di belakang,ini ada benarnya. Kemudian ada lagi yang berkata kalau bedah sesar biasanya ASI tidak keluar,kalau ini mitos. Ada lagi yang lebih ‘sadis’, kalau sesar belum jadi ibu yang sebenarnya, ini mungkin yang ngomong begini tidurnya kurang banyak.

Persiapan bedah sesar sebenarnya bisa cepat, pasien akan dilakukan cek lab. darah dan tensi (yang saya ingat),jika HB pasien lebih dari 10 bisa dilakukan sesar, jika kurang dari 10 harus menaikkan HB dahulu,bisa dengan transfusi darah. Setelah pasien OK, tim medis akan menyiapkan segala kebutuhan bedah sesar termasuk dokter-dokter yang menangani dan termasuk ruangan operasi, setau saya dokternya ada 4, dr. kandungan, dr. Bedah, dr. Anestesi, dr. Anak, dan tentu ada asisten lagi, tolong koreksi bila salah. Bedah sesar tidak membutuhkan waktu lama,sekitaran 15-25 menit,setelah bayi dikeluarkan dari perut ibu, ibu akan ditempatkan di ruang observasi sendiri,begitu juga dengan si bayi juga ditempatkan di ruang observasi,jika kondisi sudah baik,bayi akan langsung ditempatkan di sebelah ibu. Kalau di RS Sakina Idaman, kemarin observasi istri saya setelah bedah sesar sekitar 5 jam, jadi jam 17.30 selesai operasi, bisa keluar dari ruang observasi dan pindah ke ruang ranap jam 22.00 – 22.30, saya lupa tepatnya karena sudah ngantuk + capek jadi nggak merhatiin jam,dan si kecil masuk ruang ranap bareng ibunya jam 23.00.

Setelah menjalani bedah sesar, istri saya belum boleh turun dari ranjang sampai 24 jam ke depan,tapi dianjurkan belajar miring ke kanan dan ke kiri agar lukanya tidak kaku. Disinilah adanya suami sangat penting,sampai 3 hari ke depan harus merawat ibu bayi,membantu ke kamar mandi, mengganti pembalut nifas (kadang juga memakai popok dewasa),men-sibin (bilas badan dengan kain basah) karena belum boleh mandi,menggantikan pakaian,kadang juga menyuapi makan, membantu memposisikan bayi untuk IMD (inisiasi menyusui dini),menggendong bayi jika bayi menangis, dll. Kalau di RS Sakina Idaman, di hari kedua kateter sudah dilepas (ketika sebelum operasi akan dipasang kateter),jadi mau tidak mau,bisa tidak bisa harus dipaksa untuk jalan ke kamar mandi kalau mau buang hajat,untuk kesembuhan yang lebih cepat,dan saya setuju itu. Dengan kata lain, istri saya hari senin bedah sesar, selasa sore sudah bisa jalan pelan-pelan sambil saya bantu untuk ke kamar mandi. Menurut cerita istri, sakitnya terasa ketika batuk,tertawa,menungging, ketika dari posisi tidur mau duduk,dan dari duduk mau berdiri,itu sakit sekali dan kenceng,dan itu harus dibantu saya selama kurang lebih sampai 4 hari.

Dalam kondisi seperti itu,istri saya tetap menyusui,karena disamping memang niatnya untuk memberi asi eksklusif, RS Sakina Idaman ini termasuk Pro. ASI, jadi bayi baru lahir hanya boleh ASI, dokter yang kontrol akan memeriksa apakah ada sufor atau tidak ketika keliling. ASI istri saya baru keluar setelah 2 hari, selama 2 hari itu anak kami tidak minum apa-apa,karena memang menurut medis bayi baru lahir masih punya cadangan makanan sampai 3 hari ke depan,alhamdulillah hari ke 2 ASI sudah keluar. Mengenai rasa sakit setelah operasi, memang diberikan pereda nyeri, tapi trust me, itu tida ngefek,hahaha, mungkin tiap orang beda-beda kalau yang masalah ini. Di hari ke-3, dokter mengganti perban luka operasi dengan yang waterproof agar bisa mandi biasa,tetapi tetap saja masih belum percaya diri untuk mandi,baru di hari ke 4 istri saya berani mandi,dan perban penutup luka ini tidak boleh sembarangan dibuka/diganti, hanya dokter yang boleh membuka dan mengganti,jadi jangan diutak-atik.

Setelah 1 minggu istri kembali kontrol, (oiya, di hari ke 4 istri sudah boleh pulang),dan perban penutup luka dilepas dan tidak diganti,alias sudah tidak perlu menggunakan perban, tetapi tetap aktivitas belum boleh berat,belum boleh angkat berat, belum boleh jongkok lama,kalau jalan-jalan sedikit justru dianjurkan,dan tetap harus aktivitas seperti biasa agar sirkulasi darah baik dan luka cepat sembuh.

Kesimpulan:

  1. Bedah sesar tidak lebih mudah dari melahirkan normal
  2. Butuh kesabaran dan fisik yang lebih, dalam mendampingi istri yang bedah sesar
  3. Bedah sesar tetap bisa menyusui (ASI tetap keluar)
  4. Tidak ada pantangan makan bagi ibu yang menjalani bedah sesar, tetapi mengurangi gorengan dan perbanyak sayur (makanan berserat) akan lebih baik.
  5. Kalau ada omongan yang nyinyir,rasah digagas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s